PDA

View Full Version : Roma Nyaris ‘Mati’ di Anfield



debbyang
06-10-2018, 12:38 PM
https://cdn.sindonews.net/dyn/620/content/2018/02/09/57/1280873/liverpool-diklaim-lebih-kuat-dari-skuat-di-final-liga-champions-2005-Lk3.jpg

Sepanjang bergulirnya gelaran Liga Champions, cuma ada dua tim yang bisa mencetak lima gol dalam sebuah pertandingan semifinal. Di musim 1994/95, Ajax Amsterdam menjadi tim pertama yang berhasil melakukan itu ketika menumbangkan Bayern Munich dengan skor 5-2 di leg kedua. Rekor itu bertahan selama 23 tahun dab baru bisa disamai di tahun 2018.

Merupakan Liverpool, tim yang juga berhasil menciptakan lima biji gol ke gawang AS Roma dalam pertandingan leg pertama semifinal Liga Champions 2017/18. The Reds mempecundangi wakil Italia itu di Anfield pada Rabu (25/4/2018) dinihari WIB juga dengan skor yang sama, yaitu 5-2. I Lupi pun dituntut untuk bekerja ekstra keras pada leg kedua mendatang.

Menghadapi AS Roma, tidak ada perubahan signifikan di kubu Jurgen Klopp. Manajer Liverpool itu tetap mengandalkan tiga penyerangnya Roberto Firmino, Sadio Mane dan Mohamed Salah. Sementara tim tamu tampil menggunakan formasi dasar 3-4-2-1, formasi yang berhasil digunakan oleh pelatih Eusebio di Francesco untuk menyingkirkan Barcelona di perempat final lalu.

Dengan formasi tersebut, Roma sebenarnya mampu tampil nyaman selama sekitar 25 menit pertama. Serigala Ibukota menguasai bola hingga 56 persen dan sukses membuat tiga ancaman dengan dua di antaranya tepat sasaran. Liverpool tampak kesulitan untuk mengembangkan permainan karena garis pertahanan tinggi Roma dan pressing yang mereka lakukan.

Akan tetapi strategi itu tak dimungkiri membuat lini pertahanan mereka menyisakan satu ruang yang besar. Akhirnya celah tersebut pun dimanfaatkan oleh Liverpool dengan mulai meningkatkan intensitas serangan mereka. Setelah 30 menit, serangan Roma mulai mengendur saat The Reds menerapkan Gegenpressing.

Tim tuan rumah berbalik mengambil alih permainan. Perubahan tersebut langsung berbuah dua gol oleh Salah di menit ke-36 dan ke-45. Tetapi itu hanyalah permulaan, karena Liverpool makin menggila selepas turun minum. Jantung pertahanan Roma digempur tiada henti dan berhasil menggagalkan perubahan taktik yang coba dilakukan oleh Di Francesco.

Itu terbukti dengan minimnya kontribusi dari pemain pengganti, Patrik Schick, yang menukar peran Cengiz Uender. Di babak kedua Roma bermain dengan formasi 3-4-1-2. Sebenarnya mereka tetap bisa memberikan tekanan, terutama lewat dua wingback Aleksandar Kolarov dan Alessandro Florenzi. Tetapi sisi kanan dan kiri justru jadi biang keladi terciptanya gol-gol Liverpool berikutnya.

Salah dan Mane yang memiliki kecepatan pun makin nyaman menebar ancaman melalui sisi sayap. Dalam kurun waktu lima menit, alhasil gawang Roma bobol dua kali. Skemanya tidak jauh berbeda, yaitu melalui serangan dari sayap kanan oleh Salah. Pemain asal Mesir itu kerap tak terkawal karena Kolarov lebih rajin melakukan overlap. Salah pun sukses membuat dua assist untuk Mane (56’) dan Firmino (61’).

Tertinggal 4-0, tim tamu lebih memilih untuk fokus menjaga pertahanan agar tak semakin terbantai. Di Francesco pun menerapkan formasi empat bek. Tetapi gawang Roma justru kembali kebobolan, kali ini lewat skema yang berbeda. Firmino mencetak gol keduanya di menit ke-69 dengan sundulannya setelah menerima bola sepak pojok dari James Milner. AS Roma nyaris terbunuh di Anfield lantaran mereka sudah tertinggal lima gol tanpa balas saat laga belum genap 70 menit. Di satu sisi, Liverpool mulai mengendurkan tempo dengan menarik Salah dan menggantinya dengan Danny Ings.

Pada 10 menit terakhir pertandingan, Roma akhirnya bisa bernapas lega sekaligus membuka jalan untuk tetap berada di jalur menuju final Liga Champions. Dua gol berhasil dibuat oleh Edin Dzeko di menit ke-81 dan Diego Perotti melalui titik putih di menit ke-85. Itu terjadi karena tidak adanya gelandang yang bisa menjaga tempo permainan dan organisasi lini belakang yang buruk.

Dengan agregat sementara 5-2, Liverpool di atas kertas lebih berpeluang melaju ke final. Tetapi mereka belum sepenuhnya aman karena pada 3 Mei mendatang mereka akan bergantian mampir ke Olimpico. Ini akan menjadi ujian sebenarnya untuk Salah dkk. mengingat Barcelona pun tak bisa berbuat banyak di sana dan bisa disingkirkan oleh Roma dari Liga Champions. Roma ‘hanya’ butuh kemenangan 3-0, seperti yang mereka lakukan ke Barca, untuk memastikan satu tiket final.

Simak terus berita sepakbola lainnya dan ulasan prediksi piala dunia (https://indonesia.bettingtop-10.com/prediksi-piala-dunia-rusia-2018/) yang lengkap bersama kami.